Short Story: Feelings Worth to Tell About

Paper White
5 min readSep 19, 2022
Paper White

Menghabiskan waktu malam dengan dia terdengar menyenangkan. Menghabiskan satu malam dengan dia di perpustakaan terdengar mengada-ada. Jika saja seseorang memberi tahu ku beberapa hari sebelumnya bahwa aku akan berada di perpustakaan untuk menghabiskan waktu Sabtu malam ku, aku akan menertawakan mereka. Tapi di sanalah aku, di perpustakaan tua dengan seorang pria Brilliant dan Sensitive — saat mengalami krisis perasaan.

Mendapati pria itu di depan mataku membuat aku pusing dengan cara yang baik. Aku yakin bahkan Adonis iri dengan keindahan pria ini. Dia memiliki aroma yang luar biasa, sesuatu yang manis seperti karamel hangat dan almond berpadu dengan aroma basah kayu cendana yang sejuk. Lagipula aku tidak bisa tidak peduli. Cara orang-orang di sekitar membicarakan dirinya yang luar biasa mengandung banyak arti. Pria menawan dan berbakat ini juga telah menarik paksa feminisme keluar dari dalam diri ku, seperti membuat aku kembali menjadi anak kecil yang tidak tahu bagaimana menavigasi dunia namun tahu apa yang terasa baik dan buruk. Aku tidak ingat kapan terakhir kali merasa seperti ini terhadap siapa pun.

Oakley bingkai hitam. Itu terlihat bagus padanya dan tidak ada ruang untuk berargumen. Klasik dan mahal, seperti dirinya. Begitulah aku memanfaatkan waktu beberapa detik untuk menelusuri setiap inci wajah pria dihadapanku yang begitu fokus dan serius menulis diatas meja kayu Oak dengan pola dan butiran kayu yang indah dengan segala nilai sejarahnya. Seperti menulis adalah satu-satunya pelarian yang dia miliki dari segala sesuatu yang mengelilinginya. Dia dapat memegang sebuah pena dan mendapatkan kepuasan serta kenikmatan atas apa yang dia tulis, dan itu membuat dia terlihat semakin menarik — setidaknya menurut ku.

Ada hal-hal yang ingin aku katakan namun itu tidak pernah keluar dari mulutku. Pada akhirnya aku hanya membiarkan orang itu merasakannya. Memang terdengar tidak adil namun untuk menyampaikan suatu perasaan secara bertanggung jawab, sedikit rasa kritis, sudut pandang yang matang serta kehati-hatian diperlukan. Sangatlah membingungkan ketika dihadapkan dengan suatu perasaan yang tidak kamu mengerti. Mungkin itulah mengapa aku bertindak demikian atau barangkali aku hanya berusaha menjadi realistis, memberi benefit pada sebuah keraguan.

‘Aku ingin kamu mendengarkan hati mu, bukan apa yang orang lain akan pikirkan tentang itu.’

Seperti dapat membaca pikiranku, timbre suara yang kental mengaburkan kabut putih yang mengisi kepalaku. Pria itu sudah tidak lagi menulis, sebuah buku dengan sampul coklat berada ditangannya, kemudian dia menutupnya dan meletakan itu di meja. Dia terlihat seperti sedang menunggu, dan aku bertanya-tanya apa yang dia harapkan untuk aku katakan kepadanya.

‘Meminta dirimu untuk datang ke tempat favorit ku bukanlah tanpa alasan. Itu berarti aku telah membuka pembatas diri ku pada seseorang, dan lebih dari itu, aku ingin menghabiskan waktu dengan mu.’

Dia melanjutkan kata-katanya tanpa melepaskan pandangannya dariku. Ada sesuatu tentang sorot matanya yang begitu intim untuk aku saksikan. Kecenderungan untuk menghindari hal-hal asing atau baru daripada mengkonfrontirnya membuatku mengalihkan pandangan pada objek lain di atas meja. Otoritas pria dominan selalu membuatku nervous karena alasan yang bahkan aku tidak ketahui. Pikiranku mendadak kabur dan aku seperti kehilangan kemampuan untuk merangkai kata menjadi satu kalimat yang koheren. Entah tetapi aku merasakan udara Desember berubah seperti pertengahan Agustus dalam sekejap.

‘Hal pertama yang tidak ada keraguan ketika aku memutuskan untuk melakukannya adalah mengajak mu ke tempat ini,’ dia melanjutkan kata-katanya, penuh perhatian.

Dari sudut mata, dapat ku pastikan matanya masih berkeliaran di wajah ku, mencari reaksi, tetapi aku bertekad untuk tidak menunjukkannya. Aku tidak bisa tidak berpikir berlebihan. Apakah dia mencoba mengatakan apa yang aku pikir dia sedang coba katakan? Hati ku tenggelam ke dalam dada dibawa oleh beban keheningan, namun sebuah perasaan lega mengalir melalui nadi tentang sebuah kemungkinan yang bisa menjadi nyata.

Secarik kertas berwarna pudar disodorkan padaku. Dia mengangguk, yang aku mengerti sebagai isyarat untuk mengambil atau membuka kertas tersebut. Jariku mengepal dan membuka diatas pangkuan, ragu untuk melakukannya. Please, ucap pria itu tanpa menyuarakannya dengan keras.

Oh.

Sebuah surat.

Seseorang yang memiliki hatiku,

Cinta, karunia, dan ketulusan adalah kata-kata yang ada semata-mata untuk menggambarkan dirimu, seseorang yang paling menawan, hati dan fisik, kehadiranmu merenggut tidurku.

Seiring waktu yang berjalan kamu mungkin lupa betapa indah dirimu sesungguhnya atau berapa banyak kekuatan yang kamu miliki dan serangkaian kualitas unik yang membedakan kamu dengan yang lainnya.

Kamu mungkin tidak tahu bahwa banyak orang telah mendapat manfaat hanya dengan mengenal dirimu, mereka telah meminum semua cinta yang terpancar dari hatimu.

Aku hanya ingin berkata, kamu pantas mendapatkan seluruh dunia dan semua hal baik yang ditawarkannya, kamu melakukan hal-hal yang menghadirkan sukacita dan tersenyum bahagia sudah lebih dari cukup, terima kasih telah hadir didepan mataku.

Aku sangat merindukan hari dimana bisa menatap mata yang memegang seluruh bintang di galaksi itu secara langsung dan sampai saat itu tiba aku tahu kamu akan selalu menjadi orang yang luar biasa yang pernah aku temui.

Sejujurnya tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan dirimu.

-Your secret admirer-

Mungkin aku mulai menangis. Kemudian satu kilasan senyum itu muncul, dan aku perlu menjaga diriku entah bagaimana berlabuh ke tanah karena ekspresi dia saat itu membuatku merasa melayang. Mungkin aku seperti menghilang, melebur bersama partikel debu diruangan itu.

‘Pengagum rahasia yang sekarang identitasnya tidak lagi rahasia,’ ucapnya.

Pikiranku kemudian masuk ke dalam keadaan tenang dan damai ketika diriku dibawa ke akal sehatku oleh suara nafas yang beresonansi dengan tenang melawan suara pendingin udara. Dia melihat bagaimana sebuah kesadaran itu perlahan muncul di wajahku. Pemahaman bahwa aku mengerti dengan segala skenario yang sedang berlangsung, tentang sebuah plot twist dari sebuah cerita. Aku mungkin tidak tahu keseluruhan cerita itu, yang aku tahu adalah matanya menceritakan segalanya, memproyeksikan apa yang tersembunyi jauh di lubuk hati.

’10 Juni, aku menulisnya ketika itu, tepat enam bulan yang lalu pada hari ini. Mudah merasa tidak perlu membicarakan hal-hal tertentu tapi lebih sulit untukku berjalan dengan beban yang ditimbulkan olehnya, dan itu telah melukai diri ku pada tingkat yang sangat intens. Perasaan ini tidak hilang secara ajaib hanya karena aku mengabaikannya, lalu aku sadar bahwa jika aku merasakannya, maka itu adalah hal yang nyata dan penting bagi ku, dan jika ini melibatkan seseorang maka aku perlu menyampaikannya kepada orang itu.’

Segalanya begitu samar dan jelas dalam waktu yang bersamaan. Semua hal yang aku pikir aku tahu dengan baik hancur menjadi potongan-potongan kecil.

'Aku, sejujurnya tidak pernah berpikir akan mendengar semua ini dari mu, aku yakin hanya aku disini yang merasakannya, semua ini- semua perasaan ini…’

Ini Katarsis — melegakan, kata-kata itu telah keluar. Aku merasa seperti bisa melakukan apa saja sekarang setelah segala sesuatu yang menumpuk didalam diri ku selama beberapa minggu terakhir akhirnya mulai terlepas.

'Jadi, apakah aku akan lebih sering bertemu denganmu?' katanya sambil menatapku, itu lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan, retoris.

'Jika itu yang kamu inginkan,' jawabku, dan dia tersenyum, sangat lembut.

Aku kembali diingatkan betapa tipisnya batas antara mimpi dan kenyataan jika seseorang yakin akan keajaiban semesta.

Short Story by Paper White

--

--

Paper White

Sometimes it’s much easier to translate thoughts into writing than to speak